Nama Bulan Hijriyah Beserta Artinya dalam Islam

- 1 comments
Kaum Muslimin secara umum, selain menggunakan kalender Hijriyah dalam kehidupan sehari-hari, juga banyak yang menggunakan kalender masehi. Kalender Hijriyah itu sendiri dihitung dan diawali sejak hijrahnya Rasulullah SAW dari kota mekkah ke kota madinah.

Jumlah bulan Hijriyah sama dengan jumlah bulan masehi yaitu sama-sama 12 bulan. Perbedaan bulan hijriyah dan bulan masehi terletak pada lamanya hari, kalau bulan hijriyah lamanya antara 29 dan 30 hari sedangkan bulan masehi antara 30 hari dan 31 hari serta ada yang 28 hari.

Kalender Hijriyah atau yang sering disebut Kalender islam dihitung menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender masehi yang acuannya menggunakan peredaran matahari.

Penetapan kalender hijriyah dilakukan pada zaman khalifah Umar bin Khattab, yaitu dihitung sejak Rasulullah SAW hijrah dari kota mekkah menuju kota madinah atas perintah Allah SWT.

Didalam al Qur'an surat at Taubah (9) : 36 Allah SWT berfirman yang artinya : 
 "Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah SWT adalah dua belas bulan, didalam ketetapan Allah SWT diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di empat bulan itu. dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT beserta orang-orang yang bertaqwa (QS. at Taubah : 36)

Nama-nama bulan dalam kalender hijriyah diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di bangsa arab.

Berikut ini adalah Nama - nama Bulan hijriyah beserta artinya :

1. Muharram
Bulan muharram adalah bulan pertama pada bulan islam yang artinya bulan yang diharamkan untuk berperang dan termasuk dalam bulan-bulan suci. Dinamakan bulan Muharram karena bangsa arab mengharamkan perang pada bulan ini.

2. Safar
Dinamakan safr karena perkampungan arab pada waktu itu kosong (Safr) dari penduduk, mereka keluar untuk berperang.


3. Rabi'ul awwal
Dinamakan demikian karena saat penamaan bulan ini bertepatan dengan bulan semi.

4. Rabi'ul Akhir (Robiul Tsani)
Dinamakan demikian karena mereka menggembalakan ternak mereka di rerumputan. Dan ada yang mengatakan bahwa pada bulan ini bertepatan dengan musim semi.

5. Jumadil awwal (Jumadil Ula)
Sebelum masa islam bulan ini dinamakan jumadil khomsah. Dinamakan jumada karena saat penamaan bulan ini bertepatan dengan jatuhnya muim dingin dimana air jumud (membeku).

6. Jumadil Akhir (Jumadil Tsani)
Sebelum masa islam bulan ini disebut dengan jumadil sittah. karena saat penamaan bulan ini bertepatan juga dengan musim dingin.

7. Rajab
Bulan rajab termasuk bulan suci. Dinamakan bulan rajab karena bangsa arab melepaskan tombak dari tajamnya besi untuk menahan diri dari peperangan.

8. Sya'ban
Dinamakan demikian karena bangsa arab pada bulan ini berpencar ke berbagai penjuru untuk mencari air.

9. Ramadhan
Ini adalah bulan puasa bagi umat islam. Dinamakan demikian karena panasnya ramadh mencapai puncaknya. dan pada saat penamaannya bertepatan dengan musim panas yang parah.

10. Syawal
Bulan inilah umat islam melaksanakan hari raya. Dinamakan demikian karena pada saat itu unta betina kekurangan air susu.

11. Dzulqo'dah
Bulan ini adalah bulan suci. Dinamakan demikian karena bangsa arab duduk tidak berangkat untuk perang karena bulan ini bulan yang haram untuk berperang.

12. Dzulhijjah
Didalamnya terdapat musim haji dan idul adha. Bulan ini termasuk bulan-bulan suci. Dinamakan demikian karena bangsa arab melaksanakan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah.

Demikian Nama bulan hijriyah dalam islam beserta artinya. Mudah-mudahan bermanfaat. Amiiin....
[Mau Baca Klik Disini]

Khutbah Jumat : Cara Mengisi Bulan Ramadhan Menjelang Berakhir

- 0 comments
Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْفُرْقَانَ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذَيِرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ النِّعَمِ مِدْرَارًا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُطَهِّرُوْنَ اللهَ تَطْهِيْرًا. فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ. بسم الله الرحمن الرحيم، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ 

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah,  

Saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri, juga para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah

Kita sekarang sudah memasuki bagian-bagian akhir pada bulan Ramadhan. Kita perlu mengoreksi diri kita sendiri sebagai bahan evaluasi. Mulai awal Ramadhan kemarin sampai hari ini: apakah kualitas dan kuantitas ibadah kita sudah sesuai yang kita harapkan?. Apabila sudah, mari kita jaga sekuat tenaga hingga akhir Ramadhan. Jika belum sesuai dengan ekspektasi kita, mari kita tingkatkan dengan sebaik-baiknya. Karena,
اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

Artinya: “Setiap amal tergantung dengan endingnya”

Seperti orang yang sedang membangun rumah. Kita ini sudah membangun rumah 70 persen. Bagaimana yang 30 persen sisanya, ini sangat menentukan. Kalau finishing-nya bagus, akan jadi rumah yang indah, tapi jika finishing-nya dikerjakan secara asal-asalan, tentu rumah yang dibangun dengan permulaan susah payah, hanya akan mendapatkan nilai buruk hanya masalah 30 persen yang akhir adalah buruk. 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan pada sepertiga bulan Ramadhan akhir ini. Di antaranya bahwa Allah menciptakan umat Muhammad penuh dengan keistimewaan. Sebagian keistimewaannya adalah Allah menciptakan umat Muhammad sebagai umat yang lahir di muka bumi ini pada bagian paling akhir. Kenapa? Karena apabila ada umat  Muhammad yang menjadi seorang pendosa, seumpama ia mati, di kuburan disiksa tidak terlalu lama lagi kiamat akan datang, ia akan dientaskan dari siksaan kubur. Jika ia dalam keadaan membawa iman, ia akan berpeluang besar mendapatkan syafa’at Rasulullah ﷺ. Kata Rasulullah ﷺ:

شَفَاعَتِيْ لِاَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ اُمَّتِىْ 

Artinya: “Syafa’atku untuk para pendosa besar dari umatku.” (HR Abu Dawud dan At- Tirmidzi) 

Ada keutamaan lain, umat Muhammad tidak diciptakan oleh Allah dengan umur yang panjang-panjang, 500 tahun, 700 tahun dan lain sebagai. Umur umat Muhammad rata-rata antara 60 sampai 70 tahun. Hal ini sebutkan dalam hadits Nabi:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.

Artinya: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melewati usia tersebut.” (HR At-Tirmidzi) 

Umur yang pendek-pendek ini di antara hikmahnya adalah supaya umat Muhammad tidak capek-capek beribadah yang panjang. Umat Muhammad diberi oleh Allah umur yang pendek, namun dalam pendeknya umur, Allah memberikan peluang lailatul qadar sehingga apabila lailatul qadar ini bisa digunakan dengan baik, hal tersebut lebih baik daripada seribu bulan atau 83 tahun lebih yang tidak malam lailatul qadarnya. Maka, seumpama ada umat Muhammad mulai ia baligh sekitar umur 13 tahun, setiap tahun ia bisa menggunakan malam laitalul qadar dengan sebaik mungkin sedangkan umurnya sampai 63 tahun, ia berarti telah menjalankan ibadah lebih baik dari 4.500 tahun yang tidak ada lailatul qadarnya. Betapa Allah sungguh memuliakan umat Muhammad dibandingkan umat yang lain. 

Lailatul qadar tidak bisa dipastikan jatuhnya kapan. Bisa pada awal Ramadhan, tengah ataupun di bagian akhir Ramadhan. Hal ini tidak dijelaskan secara pasti supaya kita mau menjaring terus menerus. Dengan begitu, selama Ramadhan kita berusaha memenuhinya dengan ibadah-ibadah. Hanya saja, secara umum memang lailatul qadar itu banyak yang jatuh pada kisaran 10 hari terakhir bulan Ramadhan. 

Rasulullah begitu tampak sikapnya bagaimana beliau memenuhi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Di antaranya Rasulullah telah memberikan contoh kepada kita melalui hadits yang diriwayatkan oleh istrinya Aisyah radliyallahu anha:

كانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: “Nabi ﷺ ketika memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari Muslim) 

Pengertian “mengencangkan sarungnya”, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam tafsirnya Fathul Bari, adalah Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istrinya, tidak menggauli istri beliau selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah lebih fokus ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 

Hadits tersebut terkandung maksud bahwa cara Rasulullah menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan tidak menjadikan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tersebut sebagai momen bermals-malasan dan sarat tidur. Orang tidur sama dengan mati, maka lawan katanya adalah menghidupkan. Rasulullah menghidupkan malam dengan terjaga, beribadah, tidak mengisinya dengan tidur. 

Selain itu, Baginda Nabi juga memperhatikan masalah ibadah keluarganya. Beliau tidak ibadah sendirian sedangkan keluarga yang lain santai-santai, tidak. Rasulullah membangunkan keluarganya untuk beribadah malam, bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah,  

Amalan lain yang selalu dilakukan oleh Rasulullah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan adalah i'tikaf. Kisah ini diceritakan oleh Sayyidatina Aisyah radliyallahu anha, istri beliau: 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala kemudian istri-istri beliau i'tikaf setelah beliau kembali ke rahmatullah.” (HR Bukhari) 

Hadirin…
Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah

Hadits di atas menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan perkerjaan penting sehingga Rasulullah melaksanakan tidak hanya beberapa hari saja di sepuluh akhir bulan Ramadhan. Tidak juga hanya melaksanakan pada salah satu Ramadhan, namun setiap sepuluh akhir Ramadhan sampai beliau meninggalkankan dunia. Kita patut mencontoh sunnah Nabi yang seperti ini. Dalam kitab Al-Majmu’ syarah Al-Muhadzab disebutkan: 

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَمَنْ أَرَادَ الِاقْتِدَاءَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اعتكاف الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ 

Kata Imam As-Syafi’i dan murid-muridnya “Barangsiapa yang ingin mengikuti Nabi ﷺ dalam menjalankan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan 

فَيَنْبَغِي أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ منه 

Maka hendaknya ia masuk masjid pada tanggal 20 Ramadhan sore hari sebelum memasuki malamnya tanggal 21. 

Hal ini penting dilakukan supaya apa? 

لِكَيْلاَ يَفُوْتُهُ شَيْئٌ مِنْهُ 

Supaya tidak terlewatkan sedikitpun waktu untuk i’tikaf. 

Kemudian kapan selesai i’tikafnya? Kalau ingin secara total mengikuti Rasul seratus persen dalam hal ini, Imam Nawawi melanjutkan 

وَيَخْرُجُ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيدِ 

Keluarnya setelah melewati maghrib malam hari raya Idul Fitri 

سَوَاءٌ تَمَّ الشَّهْرُ أَوْ نَقَصَ 

Baik hitungan bulannya penuh 30 hari atau pun hanya 29 

وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَمْكُثَ لَيْلَةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ صَلَاةَ الْعِيدِ أَوْ يَخْرُجَ مِنْهُ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلَاةِ العيد اِنْ صَلَّوْهَا فِي الْمُصَلَّى

Namun yang paling utama adalah tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat id sekalian. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa I’tikaf hukumnya adalah sunnah, namun I’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan hukumnya lebih sunnah atau sunnah muakkadah, sunnah yang sangat kuat. (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, juz 6, halaman 375) 

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah,  

Pada bulan Ramadhan juga disebutkan sebagai bulan Al-Quran. 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan menjadi penjelas dari petunjuk dan dari petunjuk-petunjuk itu dan menjadi pembeda (dari perkara yang haq dan bathil).” (QS Al-Baqarah: 185) 

Pada bulan Ramadhan Rasulullah juga memperlakukan dengan istimewa. Tidak sebagaimana bulan-bulan yang lain, pada bulan ini beliau bertadarus dengan malaikat Jibril. Rasulullah ﷺ membaca satu ayat, malaikat Jibril membaca satu ayat secara bergantian sampai khatam dalam sebulan. Kemudian kita melestarikan tradisi bertadarus bersama dengan keluarga dan saudara kita berawal dari kisah ini. 

Imam Syafi’i apabila di luar Ramadhan selalu mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali dalam shalatnya. Namun apabila pada bulan Ramadhan, dalam sehari semalam beliau menghatamkan Al-Qur'an dalam shalat sebanyak dua kali khataman. 

Oleh karena itu, mari pada bulan Al-Qur'an ini, kita perbanyak bacaan Al-Qur'an kita. Bagi yang belum bisa, jadilah Ramadhan ini sebagai tonggak awal kita dalam mempelajari Al-Qur'an sesuai tajwid kepada guru yang mumpuni dan di kemudian hari bisa sebagai bahan dasar untuk membaca Al-Qur'an. 

Pada akhirnya, dalam khutbah ini, saya mengajak kepada para hadirin, untuk bersungguh-sungguh memenuhi puasa Ramadhan dan beribadah malamnya dengan sebaik mungkin. Semoga kita dan keluarga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjalankan ketaatan-ketaatan yang pada akhirnya kelak kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatiman, amin. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ ـ 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
[Mau Baca Klik Disini]

PPDB 2019, Aturan Baru serta Sistem Zonasi

- 0 comments
PPDB 2019
Pada tahun 2019 ini Pemerintah melalui kementerian Pendidikan telah membuat kebijakan dan aturan baru dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah. Dengan diterbitkannya Permendikbud No 51 tahun 2018 pada akhir tahun 2018 yang menjadi dasar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 menggantikan Permendikbud 14 tahun 2018 tentang PPDB pada TK, SD, SMP, SMA dan SMK yang dinilai tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan layanan pendidikan. Maka terdapat beberapa point penting yang akan berlaku. 

Point penting dalam Permendikbud No. 51 tahun 2018

Diantara point penting dalam Permendikbud No 51 tahun 2018 yang menjadi dasar PPDB 2019 adalah :
1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah melaksanakan PPDB pada bulan Mei setiap tahun termasuk PPDB 2019
2. Khusus untuk SMK tahap pelaksanaan PPDB sebagaimana yang dimaksud dalam melaksanakan proses seleksi khusus yang dilakukan sebelum tahap pengumuman penetapan peserta didik baru.
3. Tahapan PPDB Selanjutnya adalah penetapan peserta didik baru dilakukan berdaarkan hasil rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah dan ditetapkan melalui keputusan kepala sekolah.

Perbedaan Mendasar PPDB 2018 dan PPDB 2019 

Diantara perbedaan mendasar PPDB 2018 dan 2019 adalah sebagai berikut :

1. Penghapusan SKTM dalam PPDB 2019

Dalam PPDB 2019 ini surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) tidak berlaku lagi. Di beberapa daerah SKTM ini menimbulkan polemik karena ada dugaan disalahgunakan. Sehingga dalam PPDB 2019 ini Siswa dari keluarga tidak mampu tetap menggunakan jalur zonasi ditambah dengan program pemerintah pusat (KIP) atau pemerintah daerah untuk keluarga yang tidak mampu.

2. lama Domisili

Dalam PPDB 2018 domisili berdasarkan alamat kartu keluarga (KK) yang diterbitkan minimal 6 bulan sebelumnya. Sedangkan pada Permendikbud No 51 tahun 2018 yang baru ini. PPDB 2019 di dasarkan pada alamat Kartu keluarga (KK) yang diterbitkan 1 tahun sebelumnya.

3. Pengumuman Daya Tampung

Untuk meningkatkan transparansi yang menghindari praktik jual beli kursi. Permendikbud No 51 tahun 2018 ini mewajibkan setiap sekolah yang ikut PPDB 2019 ini mengumumkan daya tampung pada kelas 1 SD,  7 SMP, dan 10 SMA sesuai dengan data rombongan belajar dalam Data Pokok Pendidikan (DAPODIK).

4. Prioritas satu zonasi sekolah asal

Dalam PPDB 2019 juga diatur mengenai kewajiban sekolah untuk memprioritaskan peserta didik yang memiliki kartu kelaurga (KK) atau surat keterangan domisili sesuai dengan satu wilayah asal (zonasi) yang sama dengan sekolah asal.

Demikian sekilas tentang aturan baru serta sistem zonasi PPDB 2019 sesuai dengan Permendikbud No 51 tahun 2019. Semoga bermanfaat.
[Mau Baca Klik Disini]

Shalat Sunnat Taubat

- 0 comments
Shalat sunnat taubat adalah shalat yang disunnahkan. Shalat ini dilakukan setelah seseorang melakukan dosa atau merasa berbuat dosa, lalu bertaubat kepada Allah SWT.

Berbuat dari sesuatu dosa artinya menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya, dan berniat tidak akan melakukannya lagi disertai permohonan ampunan kepada Allah SWT.

Lafadz Niat Shalat Taubat :

أصلي سنة التوبة ركعتين لله تعالي

Artinya : Aku niat shalat sunnat taubat dua rakaat karena Allah ta'ala.

Shalat sunnat Taubat ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Baihaqy yang artinya : "Setiap Orang yang pernah berbuat dosa, kemudian segera bergerak dan beerwudlu' kemudian shalat lalu memohon ampunan dari Allah SWT pasti Allah SWT akan mmberikan ampunan baginya setlah itu dibacanya surat ini : 
Mereka yang pernah mengerjakan kejahatan atau telah berbuat dosa kepada irinya sendiri lalu mereka segera ingat kepada Allah SWT terus memohon ampunan atas dosanya. siapa pula yang akan mngampuni segala dosa kalau bukan Allah SWT, sesudah itu mereka insyaf dan sadar tidak akan mengulanginya lagi perbuatan dosa yang sudah maka mereka itu akan diganjar dengan suatu pengampunan dari Allah SWT dan akan diberi pahala dengan surga. dimana di bawahnya mengalir air sungai, dan disitulah mereka kekal abadi".

a. Jumlah rakaatnya 2, 4 sampai 6 rakaat.
b. Do'anya

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا

Artinya : Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, Tuhan yang senantiasa hidup dan mengawasi, saya memohon taubat kepada-Nya sebagaimana taubatnya hamba yang dholim yang berdosa tidak memiliki daya upaya untuk berbuat mudharat atau manfaat untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

c. Sangat baik sekali membaca istighfar

Demikian tata cara shalat sunnat taubat, Semoga bermanfaat.
[Mau Baca Klik Disini]

Keutamaan Tiap 10 Hari di Bulan Ramadhan

- 0 comments
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, bulan yang didalamnya banyak sekali keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Bulan Ramadhan dalam urutan kalender hijriyah atau kalender islam, bulan ramadhan adalah bulan kesembilan setelah bulan sya'ban. 

Ketika bulan Ramadhan seluruh Umat islam di seluruh penjuru dunia melaksanakan puasa, karena pada bulan itu seluruh umat islam memang diwajibkan oleh Allah SWT untuk berpuasa seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 183 :

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ‏

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (QS. Al Baqarah : 183).

Keutamaan bulan ramadhan yang suci ini terbagi menjadi 3 bagian. Masing-masing terbagi 10 hari, yaitu 10 hari awal, 10 hari pertengan dan 10 hari akhir. Hadits tentang pembagian hari pada bulan ramadhan ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : 
Dari Hadits Rasulullah SAW di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa pembagian Keutamaan Bulan Ramadhan terbagi menjadi 3 (Tiga) yaitu :

Keutamaan 10 Hari Pertama (Rahmat)

Pada 10 hari pertama di bulan ramadhan, Allah SWT banyak menurunkan rahmat dan kasih sayang serta banyak memberikan pahala kepada hamba-Nya dari berbagai amal ibadah yang dilakukan. maka Keutamaan Bulan Ramadhan pada Fase Pertama ini disebut dengan Fase bulan penuh rahmat.

Pada waktu 10 hari yang pertama adalah waktu yangsangat berat. karena pada waktu ini adalah masa peralihan pola kebiasaan, dari yang tiap hari makan secara normal ke puasa menahan makan minum dari terbit fajar sampai terbenam matahari. 

Keutamaan 10 Hari Kedua (Maghfiroh)

Dari hadits-hadits yang telah banyak dijelaskan Keutamaan 10 hari yang kedua merupakan hari yang penuh dengan Maghfiroh atau ampunan.

Dengan sudah terbiasanya kita dalam menjalankan ibadah wajib pada bulan ramadhan yaitu puasa, kita juga menjalankan amal ibadah yang lain diantaranya adalah tadaruus al Qur'an, Qiyamullail, berdzikir dan lain-lain.

Keutamaan 10 Hari Terakhir ('Itqun Minan Nar)

Disebutkn dalam Hadits bahwa keutamaan 10 hari terakhir pada bulan ramadhan adalah dibebaskannya dari api neraka ('Itqun Minan Naar).

Pada Masa-masa ini Rasulullah SAW lebih banyak beribadah dibandingkn hari-hari yang lain. Keseriusan ibadah ini tidak hanya terfokus pada satu ibadah tetapi juga ibadah yang lain. Seperti Berdzikir, Tilawah Qur'an, dan ibadah - ibadah yang lainnya.
[Mau Baca Klik Disini]

Lailatul Qadar Makna dan Tanda - Tandanya

- 0 comments
Kita sering kali mendengar kata Lailatul Qadar. Apalagi ketika memasuki bulan ramadhan. Sebenarnya apa arti lailatul Qadar dalam Agama Islam, bagaimana tanda-tandanya...???. Muhammad Quraish Shihab memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar. Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:

Lailatul Qadar Makna dan Tanda - TandanyaPertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada QS Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. 

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: "pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Tanda - Tanda Lailatul Qadar

Allah SWT sengaja merahasiakan kapan malam Lailatul Qadar itu akan terjadi. Tujuannya, agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh untuk beramal di setiap malam pada bulan Ramadhan. Namun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menjelaskan kepada umatnya tentang Tanda Lailatul Qadar dan kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan keberkahan lailatul qadar. Dalam beberapa riwayat, beliau memerintahkan para sahabatnya agar mencarinya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, terutama di malam-malam yang ganjil.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya : “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Selain mencarinya pada malam yang ganjil, ada juga beberapa tanda lain yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW  akan datangnya malam lailatul qadar. Tanda-tanda tersebut antara lain :

Pertama: udara atau angin pada malam itu terasa tenang. Tidak telalu dingin dan tidak pula terasa panas. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً

Artinya : “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin,..” (HR. Ibnu Huzaimah)

Kedua: Matahari di pagi harinya tidak begitu panas dan berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. Disebutkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

 
هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا

Artinya :“..Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)

Ketiga: Malam tersebut tampak cerah dan terang. Sebuah riwayat dari Ubadah bin Shamit, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيْهَا قَمَراً سَاطِعاً سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ, لاَ بَرْدَ فِيْهَا وَلاَ حَرَّ, وَلاَ يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيْهَا حَتَّى تُصْبِحَ, وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيْحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً, لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ, وَلاَ يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ.

Artinya : “…Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadar adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu.” (HR. Ahmad)

Keempat: Ibadah pada malam tersebut akan terasa lebih tenang dibandingkan di malam-malam yang lain. Sebab, malaikat turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

Artinya : “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril,” (QS. Al-Qadar: 4)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah yang ada pada malam tersebut. Dan Malaikat akan turun bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat sebagaimana turunnya mereka di tengah-tengah orang yang membaca al-Qur’an serta mengelilingi majlis-majlis zikir.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/445)



Kelima: Terkadang tanda-tanda malam tersebut diperlihatkan oleh Allah dalam mimpi orang mukmin. Hal ini sebagaimana yang pernah dialami oleh sebagian para sahabat.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa ada seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan lailatul qadar dalam mimpi ketika tujuh hari terakhir (dari bulan Ramadhan). Beliau pun bersabda :

Artinya : “Aku tahu bahwa kalian melihat lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan. Siapa yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka carilah di tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikianlah beberapa tanda malam lailatul qadar yang Allah perlihatkan secara langsung kepada hamba-Nya. Tentunya tanda-tanda tersebut tidak bisa ditangkat oleh setiap manusia. Dan kita pun juga tidak dituntut untuk mencari-cari tanda tersebut. Namun yang dianjurkan adalah bersungguh-sungguh untuk memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Bahkan Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri ketika menjelaskan tanda-tanda lailatul qadar, beliau berkomentar, “Terkadang lailatul qadar telah memperlihatkan sejumlah tanda-tandanya, dan kebanyakan tidak kita ketahui kecuali setelah tanda-tanda itu berlalu.” (Fathul Bari, 4/307)

Sekali lagi, perintahnya adalah bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah pada akhir-akhir bulan Ramadhan. sementara dipertemukannya dengan lailatul qadar itu hanyalah karunia yang Allah berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, walaupun hamba tersebut tidak melihat tanda-tandanya. Wallahu a’lam bis shawab
[Mau Baca Klik Disini]

Nuzulul Qur'an Sejarah dan Maknanya dalam Islam

- 0 comments
Nuzulul Qur'an Sejarah dan Maknanya dalam IslamSetiap tahun kita sebagai umat islam akan merayakan dan memperingati sebuah kejadian yang bersejarah yang merubah arah sejarah umat manusia. Kejadian itu adalah Nuzulul Qur'an yaitu diturunkannya Al Quran oleh Allah SWT secara utuh ke Lauhul Mahfuzh di langit ke tujuh. Kemudian ke Baitul izzah Langit Dunia. Di dalam Al Quran Surat Al Baqarah 185 Allah SWT berfirman : 

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ

Artinya : "Bulan Ramadhan, Bulan yang di padanya diturunkan (Permulaan) al Quran sebagai petunjuk bagi manusiapenjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil) (QS. Al Baqarah : 185).

Peringatan Nuzulul Qur'an diperingati oleh umat islam dengan berbagai cara ada yang memperingati dengan mengadakan pengajian umum, ada yang memperingati dengan mengadakan peertunjukan seni seperti Qasidah, nasyid dan lain-lain.

Sejarah Turunnya Al Quran (Nuzulul Qur'an)

Pada suatu malam yang tenang, angin bertiup dengan lembut dan pelan serta malam bermandikan cahaya. Nabi Muhammad SAW masih berada di Gua hira', beliau sudah berhari-hari berada disitu untuk bertahannuts atau berkhalwat yaitu sebuah ritual perenungan yang intens. Imam Al Ghazali menyebutnya : Momen menyerap aspirasi dari langit.

Kemuadian saat Rasulullah SAW keluar dari gua itu tiba-tiba Jibril menampakkan diri di hadapannya, dan mengatakan, “Selamat atas anda, Muhammad. Aku Jibril pembawa “Suara Tuhan”. Anda adalah Rasulullah, utusan Allah kepada umat ini”.

Ia kemudian merengkuh tubuh Nabi sambil mengatakan, “Bacalah !”

Muhammad saw. Menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

“Bacalah !” katanya lagi.

Nabi Muhammad mengulangi jawaban yang sama. Jibril lalu menarik dan mendekapnya sampai menyulitkan beliau bernapas. Setelah dilepaskan, Jibril mengulangi lagi perintahnya dan dijawab dengan jawaban yang sama. Pada yang ke empat kalinya Muhammad saw kemudian mengucapkan kalimat suci ini:

إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq, 1-5)

Setelah selesai Nabi Muhammad SAW mengikuti Jibril membaca 5 ayat Iqra (al-Qalam) Jibril menghilang entah ke mana. Muhammad tetap merasa ketakutan. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya.

Beliau bergegas pulang menemui Khadijah, isterinya, dengan hati yang diliputi rasa galau, cemas dan takut. Begitu tiba di rumah, ia masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Katanya, “Selimuti aku, selimuti aku, sayang”.

Khadijah segera menyelimuti seluruh tubuhnya rapat-rapat. Setelah rasa takutnya mereda, beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya dan mengatakan, “Aku takut diriku, sayang. Aku khawatir sekali”.

Khadijah mengatakan dengan lembut, membesarkan hatinya :

كَلّا. أَبْشِرْ فَوَ اللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ اَبَداً, وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ, وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran.

Setelah itu Siti Khadijah kemudian menghubungi putra pamannya, Waraqah bin Naufal. Ia adalah pengikut sekaligus seorang pendeta Nasrani dan penafsir Bible: Kitab Taurat dan Injil. Ia memahaminya dalam bahasa Ibrani yang fasih.

Kepada sepupunya ini, Khadijah mengatakan, “Tolong dengarkan apa yang disampaikan sepupumu.” Lalu Nabi Saw menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya.

Waraqah sangat mengerti soal itu. Tanda-tanda kenabian telah dipahami dengan baik dari sejarah para Nabi sebelum Muhammad. Ia mengatakan, “Muhammad, itulah Namus yang pernah turun kepada Nabi Musa as. Kau akan menjadi utusan Tuhan. Kau akan didustakan, disakiti, diusir dan dibunuh. Kalau saja aku masih muda dan kuat, aku pasti akan membelamu, manakala kaummu mengusirmu.”
Rasulullah saw menanyakan, “Apakah mereka akan mengusirku ?”

“Ya, dan tak ada seorangpun yang sanggup menanggung beban berat seperti yang kamu tanggung,” jawab Waraqah.

Nabi tertegun. Hatinya masyghul (gundah). Ia tak dapat membayangkan peristiwa yang akan terjadi terhadap dirinya kelak, bagaimana dia akan bisa hidup di luar daerahnya dan dalam keadaan sebagai orang yang dikejar-kejar, bagai penjahat besar yang menjadi buronan masyarakatnya sendiri
[Mau Baca Klik Disini]

Memaknai Idul Fitri menurut Ajaran Islam

- 0 comments
memeknai idul fitri menurut ajaran islamBagi kita umat islam, kata idul fitri tidak asing lagi. Sering kita mendengar kata tersebut, baik di ceramah-ceramah agama islam, media massa, buku-buku islam maupun dari literatur yang lain. Setiap kita selesai melaksanakan puasa di bulan ramadhan kita akan menemui Idul Fitri tiap tanggal 1 Syawal.

Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan dari puasa itu sendiri yaitu menjadi manusia yang bertaqwa.

Idul Fitri terdiri dari dua kata yakni Idul dan Fitri. Idul dari kata aada - yauudu yang berarti kembali. dan kata fitri yang bisa mempunyai arti berbuka untuk makan atau suci.

Kata Fitri yang mempunyai makna berbuka untuk makan berasal dari sighat aftharo-yuftiru berdasar hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh anas bin mailk yang artinya : "Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitritanpa makan beberapa kurma sebelumnya." Dalam Hadits lain : Nabi SAW. Makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Dan untuk kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh). Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh) . Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri menurut agama islam adalah Kembali kepada kesucian, kembali kepada asal kejadiannya yaitu suci dan mengikuti petunjuk yang benar. Bagi umat muslim yang telah melaksanakan puasa ramadhan berarti diampuni dosanya oleh Allah SWT. kembali kepada kesucian seperti bayi yang baru lahir.

Sedangkan hidangan yang terkait dengan Idul Fitri yaitu ketupat, yang mempunyai arti ngaku lepat alias mengakui kesalahan. Sedangkan bentuk ketupat yang segi empat menandakan bahwa empat kiblat dan lima pancer. Yaitu mempunyai empat kiblat dan satu pusat yaitu jalan kehidupan. Kemanapun manusia berjalan maka jangan sampai meninggalkan dan melupakan Allah SWT sebagai pusatnya.

Pemberian makna  hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi Halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Apalagi sekarang permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas dan waktu sebab bisa menggunakan jejaring media sosial seperti contoh lewat sms, up date status, inbox di facebook, twiter, yahoo mesenger, skype dan email.

Kesimpulan akhir adalah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah) . “
[Mau Baca Klik Disini]

Shalat Sunnat Witir dan Doanya

- 0 comments
Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah sholat isya sampai menjelang subuh dengan rakaat yang ganjil. Sholat ini dikerjakan untuk mengganjili sholat-sholat yang genap pada akhir malam. Karena rakaatnya yang ganjil sholat witir dikerjakan sebagai akhir dari sholat yang rakaatnya genap.

Dalam mengerjakan shalat witir, boleh dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat sesudah itu diakhiri dengan satu rakaat, kemudian masing-masing satu tasyahud dan satu kali salam. Boleh pula dikerjakan keseluruhan rakaat sekaligus dengan satu kali salam. 

Untuk niat shalat Witir adalah sebagai berikut : 



Untuk tiga rakaat atau lebih dengan sekali salam ini, boleh dengan dua tasyahud sekali salam, boleh juga hanya dengan satu tasyahud pada rakaat terakhir, sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:

 كَانَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيُوتِرُبِسَبْعٍأَوْبِخَمْسٍلَايَفْصِلُبَيْنَهُنَّبِتَسْلِيمٍ 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwitir tujuh atau lima rakaat secara bersambung dan tidak dipisahkan dengan salam (HR. An Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad) 



Artinya: “Wahai Allah. Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang tetap, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu’, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shaleh, kami memohon kepada-Mu agama yang lurus, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang banyak, kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu syukur atas kesehatan, dan kami memohon kepada-Mu terkaya dari semua manusia.” 

“Wahai Allah, Tuhan kami. Terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyu’an kami, kerendahan hati kami, ibadah kami. Sempurnakanlah kelalaian atau kekurangan kami, 

Wahai Allah Wahai Allah Wahai Allah Wahai Dzat yang Paling Penyayang diantara para penyayang. Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baiknya makhluk-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabatnya semua, dan segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam.” Niat sholat witir, doa sholat witir, tata cara sholat witir, waktu sholat witir, doa setelah sholat witir, doa sholat witir bahasa arab, doa sholat witir latin, keutamaan sholat witir, manfaat sholat witir, dll.
[Mau Baca Klik Disini]

Do'a Shalat Tarawih (Do'a Kamilin)

- 0 comments
Sebagaimana istimewanya bulan Ramadhan, salah satu momentum yang sayang dilewatkan adalah berdoa dan bermunajat di malam hari. Sebagai bulan kasih sayang (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari neraka (itqum minan nar), doa pada bulan suci ini lebih berpahala dan lebih potensial dikabulkan. 

Apalagi dilaksanakan di malam hari, yang mungkin saja bertepatan dengan Lailatul Qadar, suatu malam yang disebut Al-Qur'an lebih baik dari seribu bulan. Selain merupakan wahana menumpahkan permohonan kepada Sang Khalik, doa mencerminkan pula sebuah ekspresi ketundukan, kepasrahan, dan kerendahan hati di hadapan-Nya. 

Do'a bisa diungkapkan dengan bahasa apa saja, oleh siapa saja, dan dilakukan kapan saja, termasuk usai shalat tarawih pada Ramadhan kali ini. 

Berikut ini adalah doa yang lazim dibaca para ulama setiap selepas Shalat tarawih. Doa ini populer dengan sebutan “doa kamilin”. 


اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta lawâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa ilal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya, “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
[Mau Baca Klik Disini]

Shalat Sunnat Tarawih, Niat dan Fadhilahnya

- 3 comments
Shalat Tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan pada bulan ramadhan, shalat ini hukumnya sunnat muakkad, boleh dikerjakan sendiri-sendiri atau berjamaah.

Shalat Tarawih ini dikerjakan setelah shalat isya' sampai waktu fajar. Bilangan rakaat Shalat Tarawih yang pernah dikerjakan Rasulullah SAW diantaranya adalah 8 rakaat. Umar bin Khattab mengerjakan sampai 20 rakaat. Amalan Umar bin Khattab ini disepakati ijma' Ulama'.

Cara Mengerjakan Shalat Tarawih adalah tiap-tiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Setelah selesai mengerjakan sahalat tarawih hendaknya diteruskan dengan shalat Witir, ekurang-kurangnya satu rakaat. Tetapi umumnya dikerjakan tiga rakaat dengan dua salam dan boleh dikerjakan tiga rakaat satu salam.

Surat Al Qur'an yang dibaca setelah surat al Fatihah pada tiap-tiap rakaat adalah boleh mana saja yang kita kehendaki. Umpamanya dari surat at Takatsur sampai Surat al Lahab, sedang rakaat kedua setelah membaca surat al Fatihah boleh terserah surat apa tetapi diutamakan surat al Ikhlash.

Lafad Niat Shalat Tarawih :

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul "Bacaan Niat Salat Tarawih dan Salat Witir di Bulan Ramadan", https://tirto.id/bacaan-niat-salat-tarawih-dan-salat-witir-di-bulan-ramadan-dpug.

Follow kami di Instagram: tirtoid | Twitter: tirto.id
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul "Bacaan Niat Salat Tarawih dan Salat Witir di Bulan Ramadan", https://tirto.id/bacaan-niat-salat-tarawih-dan-salat-witir-di-bulan-ramadan-dpug.

Follow kami di Instagram: tirtoid | Twitter: tirto.id
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya : "Aku Niat shalat tarawih dua rakaat (makmum / jadi Imam) karena Allah Ta'ala".

Fadhilah atau Keutamaan Shalat Tarawih :

Banyak sekali Fadhilah dan keutamaan shalat tarawih, salah satunya seperti hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Dalam bulan Ramaadhan kita disunnatkan memperbanyak tadarrus al Qur'an (membaca al Qur'an), memperbanyak membaca shalawat, dikir dan berdo'a. Dan untuk menambah syiar ramadhan serta menggembirakan para jamaah.

Semoga bermanfaat
[Mau Baca Klik Disini]

Hal - Hal Yang Menyebabkan Seseorang Mendapatkan Warisan dalam Islam

- 0 comments
Hal - hal yang menyebabkan seseorang mendapat hak waris terdiri dari 3 (tiga) macam diantaranya adalah :

1. Karena hubungan kekerabatan atau hubungan nasab

Seperti kedua orang tua (ibu-bapak), anak, cucu, dan saudara serta paman dan bibi. Singkatnya adalah kedua orang tua, anak, dan orang yang bernasab dengan mereka. Allah SWT berfirman dalam al Qur'an :

وَاُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلٰى بِبَعۡضٍ فِىۡ كِتٰبِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ‏

Artinya : "Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari pada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah SWT. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al Anfal : 75)

2. Karena Hubungan Perkawinan

Hubungan pernikahan ini terjadi setelah dilakukannya akad nikah yang sah dan terjadi antara suami istri  sekalipun belum terjadi persetubuhan. Adapun suami istri yang melakukan tidak sah, tidak menyebabkan adanya hak waris.

Pernikahan yang menyebabkan dapat mewarisi memerlukan dua syarat, yaitu :

a. Akad nikah nikah ini sah menurut syariat islam, baik keduanya telah berkumpul maupun belum.
b. Ikatan perkawinan antara suami istri itu masih utuh atau ianggap masih utuh.

3. Karena Wala'

Wala' adalah pewarisan karena jasa seseorang yang telah memerdekakan budak atau hamba sahaya kemudian budak itu menjadi kaya. Jika orang yang dimedekakan itu meninggal dunia, orang yang memerdekakannya berhak mendapatkan warisan.

Wala' yang dapat dikategorikan sebagai kerabat secara hukum, disebut juga dengan istilah wala'ul ilqi atau wala'un nikmah. Hal ini karena pemberian kepada seseorang yang telah dibebaskan dari statusnya sebagai hamba sahaya.
[Mau Baca Klik Disini]

Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Falak dalam Islam

- 0 comments
Ilmu Falak yang sering disebut dengan ilmu hisab pada garis besarnya ada dua macam, yaitu Ilmiy dan 'amaly.

Ilmu Falak 'Ilmy

Adalah ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit, misalnya dari segi asal mula kejadiannya (cosmogoni), bentuk dan tata himpunannya (cosmologi), jumlah anggotanya (cosmografi), ukuran dan jaraknya (astrometrik), gerak dan daya tariknya (astromekanik), dan kandungan unsur-unsurnya (astrofisika), ilmu falak yang demikian ini disebut dengan Theoritical Astronomy.

Ilmu Falak 'Amaly

Adalah ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lainnya. Ilmu Falak ini disebut dengan Practical Astronomy. Ilmu Falak 'amaly inilah yang oleh masyarakat umum dikenal dengan istilah Ilmu Falak atau Ilmu Hisab.

Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah, sehingga pada umumnya ilmu falak ini mempelajari 4 bidang yaitu
1. Arah kiblat dan bayangan arah kiblat
2. Waktu-waktu shalat
3. Awal bulan
4. Gerhana

Pembahasan 4 Bidang Ilmu Falak 'Amaly

1. Ilmu Falak membahas arah kiblat pada dasarnya adalah menghitung besaran sudut yang diapit oleh garis meridian yang melewati suatu tempat yang dihitung arah kiblatnya dengan lingkaran besar yang melewati tempat yang bersangkutan dengan ka'bah, serta menghitung jam berapa matahari itu memotong jalur menuju ka'bah.

2. Ilmu falak membahas waktu - waktu shalat pada dasarnya adalah menghitung tenggang waktu ketika matahari berada di titik kulminasi atas dengan waktu ketika matahari berkedudukan pada awal waktu - waktu shalat.

3. Pembahasan awal  bulan dalam ilmu falak adalah menghitung waktu terjadinya ijtima' (konjungsi), yakni posisi matahari dan bulan berada pada satu bujur astronomi, serta menghitung posisi bulan ketika matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi itu.

4. Sementara yang dibahas dalam Gerhana adalah menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan yakni kapan bulan mulai menutupi matahari dan lepas darinya pada gerhana matahari, serta kapan pula bulan mulai masuk pada umbra bayangan bumi serta keluar darinya pada gerhana bulan.

Semoga bermanfaat
[Mau Baca Klik Disini]
 
Copyright © . Pengetahuan Agama Islam - Posts · Comments
Blog dibuat oleh Imam fahrudin · Didukung oleh Blogger